RSUD. A. WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA

RSUD. A. WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA
chain of survival

Senin, 30 Januari 2012

STEMI INFERIOR
STEMI ANTERIOR EXTENSIVE ISKEMIC INFERIOR

TORSADE DE POINTES

Jumat, 27 Januari 2012

A R I T M I A

Pengertian
Aritmia adalah variasi-variasi diluar irama normal jantung. Kelainannya dapat berhubungan dengan kecepatan, keteraturan, atau tempat asal impuls atau urutan aktivasi.

Pembacaan dan Penilaian Aritmia
 Lima langkah yang perlu diingat dalam membaca aritmia, yaitu :
1. Irama : ukur jarak R-R, teratur atau tidak.
2. Frekuensi (HR) : dapat dipergunakan 3 cara berikut.
    a. 300 dibagi jumlah kotak besar jarak R-R
    b. 1500 dibagi jumlah kotak kecil jarak R-R.
    c. Bila jarak R-R tidak teratur : dalam 30 kotak besar (6 detik) hitung jumlah QRS-nya, lalu kalikan 10.
3. Gelombang P: normal, ada atau  tidak, dan apakah selalu diikuti kompleks QRS.
4. Interval P-R : normalnya, 0,12-0,20 detik, dan apakah jaraknya memanjang atau tidak.
5. Gelombang QRS: normalnya, 0,06-0,12 detik.

  

Aritmia yang Berasal dari Nodus SA
Ada beberapa aritmia yang berasal dari nodus SA, yaitu :
1. Bradikardia Sinus
2. Takikardia  Sinus
3. Sinus Arrest
4. Blok Sinoatrial
5. Aritmia Sinus
6. SSS (sick sinus syndrome)
 Aritmia yang berasal dari Atrium
Atrial Flatter


1. Extrasystole Atrial/Kompleks Atrial Premature
2. WAP (wandering atrial pacemaker)
3. Takikardia Atrial
4. AF (atrial fibrilasi)
5. AFL (atrial flatter)
6. SVT (supraventrikel takikardia
7. SVES (supraventrikel takikardia)




Atrial Fibrilasi











Aritmia yang Berasal dari Nodus AV
Ada beberapa aritmia berasal dari nodus AV, yaitu :
1. Juctional bradikardia
2. Juctional takikardia
3. Juctional Extrasystole
4. Juctional acceleration

Aritmia yang Berasal dari Ventrikel
Hampir sebagian besar aritmia, yang berasal dari ventrikel memiliki resiko/potensi mengancam jiwa  pada pasien yang memiliki kelainan jantung.
Beberapa aritmia yang berasal dari ventrikel, yaitu :
1. VES (ventrikel extrasystole)/PVC (premature ventrikel compleks)
    meliputi : VES bigemini, VES trigemini, VES quadrigemini, VES multifokal, VES consecutive, VES RonT
2. Acceleration Idiovetrikular
3. VT (ventrikel takikardia) terbagi : monomorfik dan polimorfik
4. VF (ventrikel fibrilasi)
5. Asistole
6. Torsade de pointes
7. PEA (pulseless electrical activity)


Gangguan Konduksi di Supraventrikel
1. AV Blok derajat 1
2. AV Blok derajat 2 type Mobitz 1 / Wenchebach
3. AV Blok derajat 2 type Mobitz 2
4. AV Blok derajat 3 at Total AV Block

Kamis, 26 Januari 2012

PRIVATE MEMBACA ECG 3 HARI BISA

Bagi teman2 yang berminat belajar membaca ECG
dijamin dalam 3 hari teman-teman bisa membaca ECG
dengan biaya yang sangat terjangkau.
Dengan kelompok belajar 5-10 orang.
hubungi kontak person Eko 085386859990

Materi Private Meliputi :
1.   Anatomi dan Elektrofisiologis Jantung
2.   Elektrocardiogram  dan Penempatan Elektroda
3.   Gambaran ECG Normal
4.   Gambaran ECG berdasarkan Asal Impuls dan Gangguannya
5.   Gambaran ECG dengan Gangguan Konduksi/Hantaran (Blokade)
6.   Konsep Dilatasi dan Hipertropi Ruang Jantung
7.   Aritmia
8.   Gambaran ECG pada Iskemia, Injuri, dan Infark Miokard
9.   Gambaran ECG pada Kondisi Lain
10. Irama-Irama Kegawatdaruratan Jantung.
11. Evaluasi

Kamis, 04 November 2010

AIRWAY MANAGEMENT

NASO & ORO FHARYGEAL AIRWAY

HEAD TILL CHIN LIFT

LARYGEAL MASK AIRWAY












COMBITUBE


















Prosedur CPR / RJP berubah !! (Bukan ABC, Tapi CAB)
oleh Igd Rsuaws pada 04 November 2010 jam 22:24

Tanggal 18 obtober 2010 lalu AHA (American Hearth Association) mengumumkan perubahan prosedur CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau dalam bahasa Indonesia disebut RJP (Resusitasi Jantung Paru) yang berbeda dari prosedur sebelumnya yang sudah dipakai dalam 40 tahun terakhir. Perubahan tersebut ada dalam sistematikanya, yaitu sebelumnya menggunakan A-B-C (Airway-Breathing-Circulation) sekarang menjadi C-A-B (Circulation – Airway – Breathing). Namun perubahan yang ditetapkan AHA tersebut hanya berlaku pada orang dewasa, anak, dan bayi. Perubahan tersebut tidak berlaku pada neonatus.


Perubahan tersebut menurut AHA adalah mendahulukan pemberian kompresi dada dari pada membuka jalan napas dan memberikan napas buatan pada penderita henti jantung. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa teknik kompresi dada lebih diperlukan untuk mensirkulasikan sesegera mungkin oksigen keseluruh tubuh terutama organ-organ vital seperti otak, paru, jantung dan lain-lain.


Menurut penelitian AHA, beberapa menit setelah penderita mengalami henti jantung masih terdapat oksigen pada paru-paru dan sirkulai darah. Oleh karena itu memulai kompresi dada lebih dahulu diharapkan akan memompa darah yang mengandung oksigen ke otak dan jantung sesegera mungkin. Kompresi dada dilakukan pada tahap awal selama 30 detik sebelum melakukan pembukaan jalan napas (Airway) dan pemberian napar buatan (bretahing) seperti prosedur yang lama.

AHA selalu mengadakan review “guidelines” CPR setiap 5 tahun sekali. Perubahan dan review terakhir dilakukan pada tahun 2005 dimana terjadi perubahan perbandingan kompresi dari 15 : 2 menjadi 30 : 2.Dengan perubahan ini AHA merekomendasikan agar segera mensosialisasikan perubahan ini kepada petugas medis, instruktur pelatihan, petugas p3k dan masayarakat umum.